KLB PSSI 17 Maret 2013 tuntaskan agenda unifikasi kompetisi. Tetap bernama ISL, kompetisi itu dioperatori PT LI.
Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI 17 Maret 2013 rampung digelar. Berlangsung di Ruang Flores Hotel Borobudur, Jakarta, KLB PSSI yang juga dihadiri perwakilan FIFA -Marco Leal, Costakis Koutsokoumnis, dan Jeysing Muthiah- dan perwakilan AFC -James Kitching-, tuntaskan seluruh agenda yang telah diputuskan.
Agenda KLB PSSI 17 Maret 2013 itu sendiri adalah revisi Statuta PSSI, unifikasi kompetisi, penetapan agenda, waktu, dan lokasi pelaksanaan Kongres Tahunan PSSI, serta pengembalian 4 Exco PSSI yang dipecat Komite Etik PSSI yang berujung pada pembubaran kepengurusan PSSI hasil KLB PSSI 18 Maret 2012 di Ancol, Jakarta.
Khusus soal unifikasi kompetisi, KLB PSSI 17 Maret 2013 memutuskan Indonesia Super League (ISL) dan Indonesia Premier League (IPL) buat musim 2012/2013 bergulir masing-masing, namun berada di bawah 1 kepengurusan PSSI, yakni pimpinan Djohar Arifin Husin.
Baru pada musim 2013/2014, 2 kompetisi itu bersatu di bawah operator PT Liga Indonesia (LI) dengan nama kompetisi ISL. Sebab, sesuai hasil Kongres II PSSI 2011 di Bali, kompetisi sepakbola profesional di Indonesia memang bernama ISL dengan operator PT LI.
Buat para klub IPL, yang bakal bergabung dengan ISL hanyalah 4 klub teratas di akhir musim kompetisi 2012/2013 dan tidak terlibat dualisme kepengurusan dengan klub-klub ISL dan tidak bermasalah keanggotannya di PSSI.
Ya, seperti Persija, Persebaya, dan Arema yang tercatat sebagai klub kloningan dari klub ISL, tidak bisa bergabung. Begitu juga dengan Persema Malang, dan Persebo Bojonegoro. Meski tidak ada catatan dualisme kepengurusan, namun keanggotan mereka di PSSI bermasalah. Mereka masih dalam status disanksi karena menyebrang ke kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) di tengah ISL 2010/2011 tengah bergulir.
Artinya, hanya Semen Padang, Bontang FC, Persiraja Banda Aceh, PSLS Lauksumawe, Pro Duta, Persepar Palangkaraya, PSM Makassar, Perseman Manokwari, PSIR Rembang, Persiba Bantul, dan Persijap Jepara yang memiliki kesempatan bergabung dengan ISL 2013/2014. Sisanya, akan terlempar ke level Divisi Utama (DU).
"Sistem promosi dan degradasi di akhir musim 2012/2013 tetap diberlakukan. Namun, di ISL 2013/2014, peserta ISL akan ditambah 4 klub asal IPL yang tidak terlibat dualisme dan bermasalah keanggotannya di PSSI," jelas CEO PT LI Joko 'Jodri' Driyono.
"Jadi, peserta ISL 2013/2014 adalah 22 klub. Dan, di akhir musim 2013/2014 mulai diberlakukan sistem degradasi 4 klub dan promosi 2 klub. Sehingga, pada ISL 2015/2016, peserta ISL kembali berjumlah 18. Setelah jumlahnya 18, sistem degradasi dan promosi kembali ke sistem awal. Dua klub penghuni posisi terbawah di klasemen akhir ISL otomatis terdegradasi dan 2 klub teratas DU promosi. Sementara penghuni posisi 3 dari bawah di klasemen ISL akan berebut tiket ISL lewat laga playoff kontra penghuni posisi 3 DU," sambung Jodri.
Skema unifikasi kompetisi itu sendiri diputuskan oleh para voters KLB PSSI 17 Maret 2013. Mereka, sebelumnya, dihadapkan pada 2 skema unifikasi kompetisi. Selain dari PT LI, operator ISL, para voters juga disajikan skema unifikasi kompetisi dari PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) yang tercatat sebagai operator IPL.
Keputusan Lain KLB PSSI 17 Maret 2013:
-Menambah jumlah Exco PSSI dari 11 jadi 15
-Mengubah kuorum rapat Exco PSSI dari 2/3 jadi 1/3
-Penambahan 4 Exco PSSI diputuskan Ketua Umum PSSI dan terpilih Djamal Aziz, Hardi Hasan, La Siya, dan Zulfadhli
-Menetapkan La Nyalla Mattalitti sebagai Wakil Ketua Umum PSSI
-Memberikan sanksi skorsing (dilarang melakukan dan berkecimpung dalam dunia sepakbola Indonesia) kepada 6 Exco PSSI yang melakukan WO dari KLB PSSI 17 Maret 2013
-Pembubaran kepengurusan PSSI hasil KLB PSSI 18 Maret 2012 di Ancol